Sekjen DPP LSM Tunggal Panaluan, Kita Jangan Sesekali Menjual Lagi Objek Yang Menjadi Jaminan Atas Uang Yang Kita Pinjam Seperti Yang Dilakukan Oleh Warga Dolok Sanggul | Medan

Kategori Berita

Sekjen DPP LSM Tunggal Panaluan, Kita Jangan Sesekali Menjual Lagi Objek Yang Menjadi Jaminan Atas Uang Yang Kita Pinjam Seperti Yang Dilakukan Oleh Warga Dolok Sanggul | Medan

Tombak Publik.
Pagi ini lewat selularnya. Sekjen DPP LSM Tunggal Panaluan mengatakan, terkait pemberitaan warga yang bernama Pukka M Purba (Op. Masro) dan Pintor Adil Purba (Pak Masro) warga Lumban Pinasa, Desa Sosor Gonting. Kabupaten Humbahas yang telah menjual objek tanah yaitu berbatasan dengan Jahoras Simamora adalah telah disepakati sebagai jaminan pinjaman uang dari DPP LSM Tunggal Panaluan sebesar 12.500.000 (Dua Belas Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) dan juga disepakati akan dikembalikan dalam jangka waktu 1 Tahun dengan bunga 2%, "tetapi kurang lebih 3 Tahun belum juga dikembalikan dan selama itu tidak pernah diterima dari mereka bunganya sepeserpun sesuai apa yang telah disepakati". Katanya

Sekjen DPP LSM Tunggal Panaluan menegaskan kepada publik bahwa sebelumnya telah mengutus Pengawas Umum DPP LSM Tunggal Panaluan agar diselesaikan secara kekeluargaan dengan mengembalikan uang tersebut karena mereka telah menjual objek tanah (jaminan atas pinjaman) itu tanpa harus memperhitungkan bunga dari pinjaman itu tetapi cukup mengembalikan jumlah uang yang mereka pinjam sebesar 12.500.000 (Dua Belas Juta Lima Ratus Ribu Rupiah), namun dia mengatakan bahwa Pukka M Purba selalu mengingkari janji dengan berbagai alasan padahal Pukka M Purba bersama Pintor Adil Purba telah menjual objek tanah jaminan atas pinjaman uang itu.

Sebelumnya Pukka M Purba telah berjanji akan mengembalikan uang itu pada hari Sabtu 29/08/20 tetapi mengulang kembali beralasan dan diperhatikan tidak ada etikat baik.

"Berdasarkan itu, kami kuat menduga bahwa Pukka M Purba dan Pintor Adil Purba memang pintar bersilat lidah dan seolah sudah menjadi suatu pekerjaan. Tetapi harus dipahami tindakan yang merugikan orang lain adalah sebuah pelanggaran. Dan juga informasi yang kami terima bahwa mereka menjual jaminan (Objek Tanah) tersebut dengan cara memalsukan tanda tangan Jahoras Simamora yaitu salah satu batas dari objek tanah yang telah dijadikan jaminan pinjaman uang dari DPP LSM Tunggal Panaluan sebesar 12.500.000 (Dua Belas Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)". Katanya

Menghalalkan Segala Cara Demi Uang, Warga Sosor Gonting Jual Tanah Yang Dijadikan Jaminan Atas Pinjaman Uang 12.500.000

Dia juga mengatakan, telah diminta supaya dirembukkan bersama keluarga agar segera mengembalikan uang pinjaman yang bersumber dari khas DPP LSM Tunggal Panaluan itu, Sesuai ADRT bahwa LSM Tunggal Panaluan dalam kelangsungan dan mendukung aktivitasnya didukung dari hasil membuka Usaha ataupun sumbangan dan sebagainya yang menjadi alasan dasar terjadinya kesepakatan itu.

Karena menurutnya dia menerima informasi bahwa Pukka M Purba memiliki menantu yang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Coloumbia dan juga memiliki anak yang bekerja di Rumah Sakit Murni Teguh dibagian Radiologi yang mungkin bisa membantu untuk mengembalikan uang itu, akan tetapi kami merasa seolah sedang dipermainkan dan diperhatikan sungguh tidak ada sama sekali sedikitpun etikat baik dari mereka.

Ini adalah alasan kami akan mengambil alih lahan itu secara langsung dengan cara lebih dulu menyurati Kepala Dusun, Kepala Desa dan juga aparat hukum. Dan kami berharap kerjasama yang baik dari beliau-beliau karena kami telah mempersiapkan langkah yang tepat untuk mengambil alih objek jaminan dari pinjaman mereka itu. Dan kepada pihak lain warga sekitar agar tidak melakukan hal seburuk itu karena itu adalah suatu kejahatan dan bisa dipidanakan.

"Mudah-mudahan apapun nanti tindakan dari kader LSM Tunggal Panaluan adalah upaya membuat efek jera agar mereka tidak melakukan hal yang serupa kepada warga sekitar. Jadi semua akan mengalir sesuai perjanjian dan segala ancaman ingin menghunus pisau itu kami tidak gentar. Mereka seharusnya bersyukur dan membayar hutang bukan sebaliknya menghindar atau mengancam main piso-pisoan". Tutupnya

(Ranto S)