Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Praktikkan Pendidikan Sebagai Bentuk Inovasi Belajar Saat Pandemi

Kategori Berita

Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Praktikkan Pendidikan Sebagai Bentuk Inovasi Belajar Saat Pandemi

Tombak Publik. 
Pendidikan merupakan instrumen penggerak peradaban manusia yang utama di masa modern ini. Sebagai instrumen utama  perubahan sosial, lembaga – lembaga pendidikan tengah diuji saat pandemi virus corona atau biasa disebut covid-19.

Felix Simanjuntak, seorang m8ahasiswa Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sumatera, dengan supervisor Fajar Utama Ritongan S.sos, M. Kesos melihat ini sebagai kesempatan untuk melakukan Praktik Kerja Lapangan di Sekolah Menengah Pertama Swasta HKBP Sipahutar, Tapanuli Utara.

Di masa pandemi saat ini, sistem pendidikan dipaksa melalukan inovasi untuk supaya hak memperoleh pendidikan peserta didik tetap terpenuhi secara penuh disaat Pandemi yang memaksa masyarakat termasuk para pelajar tidak bisa bertatap muka secara berkerumun seperti yang biasa kita jumpai di kelas – kelas mengajar sekolah konvensional.

Sistem pendidikan di Indonesia pada saat pandemi ini sangat diuji, terutama dalam konteks metode belajar. Sistem pendidikan Indonesia masih tergolong konservatif, Felix menggambarkan sistem pendidikan konvensional di Indonesia dengan tiga ciri. 

Pertama, metode belajar yang dilakukan di institusi pendidikan kita masih monologis, dimana siswa berperan sebagai pendengar dan guru berceramah di depan kelas. Ada relasi kuasa yang cukup timpang antara guru dan siswa.
Hal ini bisa dilihat dari monopoli diskusi di kelas oleh guru. 

Kedua, sistem pendidikan kita masih top down, otonomi daerah bahkan otonomi sekolah sangat minim, kebijakan pendidikan yang dimanifestasikan dalam bentuk kurikulum masih sangat terpusat yaitu pemerintah pusat merumuskan standar pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

Ketiga, sistem pendidikan di Indonesia berciri Bank, yaitu transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Sistem pendidikan seperti ini digambarkan oleh Paulo Freire seorang ahli pedagogi dari Brasil sebagai pendidikan yang menempatkan siswa sebagai objek semata. Implikasinya adalah siswa sangat bergantung dengan institusi pendidikan.

Felix melihat situasi pandemi ini sebagai kritik terhadap sistem pendidikan konvensional. Ketergantungan siswa terhadap sekolah dan model kurikulum yang berbasis nasional dinilai kurang tepat dipraktikkan dimasa – masa yang mendorong pelajar untuk jauh dari gedung-gedung sekolah yang digambarkan sebagai pusat monopoli ilmu pengetahuan.
Sistem pendidikan harus di rekonstruksi kembali, filosofi pendidikan harus kembali direfleksikan sedemikian rupa supaya sesuai dengan kebutuhan jaman, terutama kebutuhan sang anak.

Anak - anak sekolah di wilayah yang masih minim infrastruktur, terutama infrastruktur jaringan telekomunikasi akan sangat susah untuk mengakses ilmu pengetahuan di tengah pandemi yang memaksa mereka harus berinteraksi dengan sekolah dengan jaringan internet.

Dalam melakukan Praktik Kerja Lapangan Di SMP Swasta HKBP Sipahutar, Felix memperkenal metode belajar hadap masalah dengan cara belajar berbasis riset.
Metode belajar ini dilaksanakan dengan memberikan keleluasaan sepenuhnya kepada anak untuk mengeksplorasi keunikan, pengalaman pribadinya, minat, lingkungan terdekat sang siswa sebagai alat utama belajar.

Menurut Felix, sekolah bisa dimana saja, semua orang adalah guru dan alam raya adalah sekolah yang memiliki nilai pengetahuan.
Para siswa dalam praktik belajar hadap masalah ini berperan sebagai subjek belajar, artinya para pelajar tidak hanya pasif saat proses belajar tapi ikut terlibat dalam dialektika diskusi. 

Para pelajar ikut terlibat dalam proses belajar secara penuh bahkan soal apa yang mau dipelajari, objek riset seperti apa yang mau diteliti itu hak otonomi siswa.
Para siswa diberikan tugas untuk melakukan riset/penelitian mandiri dari objek – objek yang mereka sukai dan yang berada di sekitar lingkungan mereka. Para siswa tidak harus lagi dipaksa datang ke sekolah dan berkumpul dalam suatu ruangan, tetapi sekarang mereka bisa mendapat pendidikan dari mana saja.

Di minggu pertama, Felix mengumpulkan beberapa siswa  di dalam suatu ruangan kelas dan melakukan perkenalan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti, memakai masker, mencuci tangan sebelum berkegiatan dan menjaga jarak. 

Minggu kedua, Felix menerangkan metode belajar hadap masalah dengan basis riset.
Minggu ketiga dan pembelajaran selanjutnya Felix hanya mendampingi siswa dalam melakukan riset dan melihat perkembangan riset siswa tanpa harus lagi bertemu secara tatap  muka secara langsung dengan berkerumun.

Metode belajar riset seperti ini merupakan inovasi yang  sangat kritis di tengah pandemi. Dengan riset siswa terlibat langsung dalam proses belajar dan setiap keunikan siswa dapat terakomodasi secara penuh karena siswa tidak dituntut lagi untuk belajar hal – hal yang tidak diminati atau bukan bakatnya.
Metode belajar terhadap masalah ini juga merupakan anti tesis sistem pendidikan konvensional yang mengerucut, dimana ilmu siswa semakin lama semakin mengerucut seperti piramida. 

Dengan riset, pendidikan digambarkan dengan model piramida terbalik.

Celsi, seorang siswa kelas 7 SMP yang melakukan riset tentang desain -desain baju karena dia bercita-cita menjadi desainer tentu harus belajar budaya untuk  mendapatkan desain baju dengan berbagai kebudayaan, 

Celsi juga harus belajar tentang sejarah, terutama soal perkembangan industri Fashion global.

Windy, pelajar kelas 8 yang juga mengikuti kelas belajar riset yang diakan Felix melakukan riset tentang kucing. Windy yang sangat menyukai Kucing pada akhirnya harus belajar geografi karena setiap wilayah geografis memili ras-ras kucing yang berbeda.

Selain itu Windy juga harus belajar ekonomi untuk menjawab pertanyaan  mengapa setiap kucing memiliki harga pasar yang berbeda beda.

Felix ingin menunjukkan bahwa seharusnya paradigma pendidikan  harus diubah, sekolah sebagai wadah ekspresi para pelajar untuk mengasah bakat dan kognitif anak jangan direduksi setiap pengalaman unik setiap anak dengan satu standar yang menyamakan semua isi kepala si anak. 

Dengan metode belajar berbasis riset, Felix berharap supaya anak tidak dijauhkan dari dirinya sendiri dan lingkungannya, sekolah dalam proses belajar mengajar seharusnya berangkat dari kebutuhan si anak.

(Fesny Anwar Manalu)